|
Didirikan tahun 1910, PT Jamu IBOE Jaya memulai
komitmennya untuk mempersembah kan Jamu yang berkualitas tinggi.
Pada lokasi pabrik seluas 2,38 ha2, yang didukung oleh 200 lebih
tenaga kerja dan profesional yang berdedikasi, PT Jamu IBOE Jaya
berusaha untuk menjadi partner terbaik dalam menjaga kesehatan masyarakat.
Logo dan Falsafah
Sejarah PT Jamu IBOE Jaya tidak terlepas dari kisah harmonisnya
hubungan seorang anak dengan ibunya.
Nama ini merupakan bentuk rasa hormat seorang anak
Siem Tjiong Nio pada ibunya Tan Swan Nio, keduanya
pendiri perusahaan ini. Yaitu sebuah pengakuan bahwa hanya melalui
perhatian, pemeliharaan, kasih sayang, dan kesetiaan seorang ibu
maka seorang anak akan tumbuh berkembang dengan sehat. PT Jamu IBOE
Jaya ingin menganalogikan hal ini dalam dunia kesehatan, sebagai
ibu dunia kesehatan masyarakat. Simbol daun pada logo melambangkan
dua hal ; kehidupan dan alam.. Figur Ibu, merupakan simbol dan sumber
dari segala yang hidup.
Jamu Iboe yakin bahwa semua aspek kehidupan termasuk didalamnya
kesehatan, selalu berhubungan dengan alam.
Misi dan Visi
PT Jamu IBOE Jaya mempunyai misi untuk melestarikan serta mengembangkan
tradisi leluhur bangsa dalam meracik jamu sehingga bisa memberikan
kontribusi maksimal bagi dunia kesehatan. Agar 'jamu' ini bisa berkembang,
PT Jamu IBOE Jaya, mempunyai visi untuk terus memodernkan pembuatan
jamu, melalui serangkaian riset untuk meningkatkan kualitas jamu
serta kuantitasnya sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat dunia
secara keseluruhan.
Sejarah
- 1910
Tan Swan Nio dan Siem Tjiong Nio, mulai melakukan proses manufaktur
Jamu dengan mendirikan Djamoe Industrie en Chemicalen Handel
"IBOE" Tjap 2 Njonja di Jalan Ngaglik 3-5 Surabaya. Djamoe Industrie
en Chemicalien Handel "IBOE" Tjap 2 Njonja makin berkembang.
Semakin terkenal setelah mampu menyembuhkan dan memberantas
epidemi 'batuk' di Surabaya. Skala perusahaan makin besar, dan
rekrutmen tenaga kerja dari luar makin banyak.
- 1938
Pemasaran diluar pulau mulai dilakukan. Pulau Bali merupakan
pulau pertama yang bisa menikmati produk Djamoe Industrie en
Chemicalien Handel "IBOE" Tjap 2 Njonja tanpa harus membeli
di Jawa.
- 1942 (Masa pendudukan Jepang di Indonesia)
Nilai penjualan semakin tinggi. Membantu Volksraad (pemerintahan
kolonial waktu itu) melakukan penelitian untuk menghasilkan
jamu yang berguna bagi masyarakat.
- 1945 (Masa kemerdekaan RI)
Semakin agresif melakukan pendekatan pasar dengan memasang iklan
di Surat Kabar. Berhasil mendirikan
11 cabang (filialen) dan 1000 agen (agentschappen).
- 1950
Era modernisasi produksi dimulai. Sebagian proses produksi memanfaatkan
mesin. Mesin Gerabah dan mesin Giling merupakan mesin pertama
yang dipakai.
- 1973
Nama "Djamoe Industrie en Chemicalen Handel "IBOE" Tjap 2 Njonja"
diubah menjadi PT Jamu Iboe Jaya. Perubahan ini sebagai perwujudan
keinginan pengelola untuk berjaya dalam konstelasi industri
jamu di tanah air. Investasi untuk perlatan produksi makin meningkat.
- 1979
PT Jamu Iboe Jaya mulai melakukan terobosan teknologi dengan
menggunakan aluminium foil untuk mengemas produksi. Terobosan
ini akhirnya diikuti
oleh perusahaan-perusahaan jamu lainnya. Tahun ini juga, PT
Jamu Iboe Jaya mulai menggalakkan Riset Laboratorium untuk menghasilkan
jamu yang bermutu tinggi.
- 1980
PT Jamu Iboe Jaya mendirikan PT IBOE Sativa
Camilind untuk memproduksi jamu dengan bentuk alternatif. Seiiring
dengan perkembangan perusahaan, PT Jamu Iboe Jaya merelokasi
pabrik dan perkantorannya ke desa Tanjungsari, Taman, Sidoarjo.
Di lokasi seluas 2,38 ha, perusahaan jamu tertua ini melakukan
proses produksinya sampai sekarang.
>>>>
|