TEMULAWAK DAN KUNYIT SEMBUHKAN
HEPATITIS
Oleh : Nana M. Ihsan dan Anang S.F.R
Di Indonesia, hepatitis atau penyakit hati menempati urutan
ketiga penyebab kematian setelah penyakit infeksi dan paru. Kebanyakan
disebutkan virus hepatitis B, yang yang berprevalensi cukup tinggi,
sekitar 2,5 – 19,5% . Bahkan untuk penduduk Jawa mencapai
34,5%.
Kalau diambil rata-rata nya maka 5% penduduk Indonesia atau sekitar
8 juta orang terinfeksi hepatitis B. Di negara lain seperti Amerika
Utara dan Eropa Barat, prevalensinya 0,1 – 0,5%. Tertinggi
terdapat di pulau Raya Samudra Atlantik : 50% dari jumlah penduduk
sebagai carrier.
Tentu saja perlu dicarikan jalan keluar agar prevalensinya dapat
di redam. Salah satu cara dengan meneliti tumbuh – tumbuhan
yang berkhasiat sebagai hepatoprotektor.
Sedikitnya ada 97 tumbuhan di Indonesia yang secara tradisional
digunakan sebagai obat hepatitis. Beberapa diantaranya telah di
uji aktivitas hepatoprotektor dan telah diketahui senyawa aktifnya.
Antara lain kurkumin dan turunannya, aukubin, glisirisin, dan
minyak atsiri . Sebagai contoh temulawak ( koneng gede, Sunda
) dan kunyit ( koneng temen, Sunda ).
TEMULAWAK DAN KUNYIT
Temulawak dan kunyit merupakan tumbuhan satu rumpun yang banyak
terdapat di Indonesia. Tingkat kesesuaian lingkungannya cukup
tinggi, bisa tumbuh di daerah dengan curah hujan tinggi : 1500
– 400 mm/tahun , di berbagai macam jenis tanah pada ketinggian
5 – 1500 m dpl.
Disamping sebagai obat tradisional, temulawak dan kunyit di gunakan
juga untuk rempah-rempah, makanan, minuman, kosmetika , dan zat
pewarna terutama pewarna makanan.
Bahkan dijadikan sebagai salah satu tanaman ekspor yang cukup
potensial. Tahun 1979 di ekspor 42,9 ton kering, 1983 naik menjadi
71,5 ton.
Temulawak dan kunyit telah lama diketahui mengandung senyawa
kimia yang mempunyai keaktifan fisiologi, yaitu kurkuminoid dan
minyak atsiri.
Kurkuminoid terdiri atas senyawa berwarna kuning kurkumin dan
turunannya. Sedangkan minyak atsiri berbau dan berasa yang khas.
Kadar kurkumin dan minyak atsiri kedua tanaman tersebut berbeda.
Kandungan minyak atsiri pada rimpang kunyit yaitu 2-7% bila dibandingkan
dengan rimpang temulawak 3-12%.
Sedangkan untuk kurkuminoid, dalam rimpang kunyit sebanyak 3-5%,
sedang temulawak 1-2%. Untuk menentukan persentase ini dilakukan
pemanasan pada temperatur 50-55o C , supaya tidak merusak zat
aktifnya dan untuk mendapatkan warna yang baik dari kurkuminoid.
SEMBUHKAN HEPATITIS
Dari komposisi tersebut terlihat bahwa kandungan minyak atsiri
dalam temulawak lebih besar , sementara kandungan kurkumin lebih
besar dalam kunyit.
Karena alasan inilah maka tim peneliti laboratorium Farmakognosi
Jurusan Farmasi Unpad Bandung meneliti pengaruh campuran kurkuminoid
dari kunyit dan minyak atsiri dari temulawak pada tikus yang telah
diinduksi dengan karbon tetraclorida ( Ccl4 ).
Karena minyak atsiri dan kurkuminoid sulit terserap usus, mereka
menyalutnya dengan liposom yang terbuat dari campuran fosfatidilkolin,
lesitin, dan kolesterol.
Farameter yang diukur adalah menuru ata meningkatnya akyivitas
enzim SGOT dab SGPT. Jika menurun maka kedua zat tersebut dapat
mengobati hati tikus yang rusak karena induksi Ccl4 .
Dari hasil penelitian ini, kadar optimum dari campuran kurkumin
dan minyak atsiri sebesar 1,144 mg/kg BB ( miligram per kilo gram
berat badan tikus ) untuk kurkuminoid kunyit, dan 0,28 kg/ BB
untuk minyak atsiri.
Campuran yang mengandung kurkuminoid kunyit 0,572 mg/BB dan minyak
atsiri temulawak 0,14mg/BB, memberikan efek antihepatoksik optimal,
tetapi tidak dapat menghentikan proses fibrosis hati oleh pemberian
Ccl4 dua kali seminggu.
JANTUNG KORONER
Disamping sebagai obat hepatitis, temulawak dan kunyit , terutama
zat kurkuminoid nya , dapat meningkatkan kadar HDL ( lipoprotein
berat jenis tinggi yang berguna untuk mencegah penyakit jantung
koroner.
Fungsi lainnya, dapat merangsang sekresi empedu, pankreas, sebagai
zat anti peradangan , danmenurunkan tekanan darah.
Dalam menurunkan tekanan darah , Gunster, peneliti dari Belanda
, melaporkan penelitiannya pada 5 kucing percobaan dengan suntkan
intravena dari temulawak sebanyak 1% yang dilarutkan dalam garam
NaCl . Ternyata dapat menurunkan tekanan darah kucing tersebut,
meski mekanisme yang pasti masih belum jelas.
Penelitian Gunster lainnya, temulawak dapat menyebabkan kontraksi
uterus. Oleh karena itu dianjurkan agar ibu hamil berhati- hati
menggunakannya karena dosis yang pasti belum jelas.
BUDI DAYA
Pembudi dayaan tanaman temulawak dan kunyit sampai saat ini pada
umumnya hanya menanam asal jadi tanpa pemeliharaan selanjutnya.
Untuk memenuhi kebutuhan temulawak dan kunyit sampai saat ini
masih mengandalkan dari hutan yang tumbuh liar. Kalau ini dibiarkan
terus dan tanpa menyelamatkan flasma nufahnya, tidak mustahil
peristiwa tragis menghilangnya beberapa spesies jenis kayu , terjadi
juga pada temulawak dan kunyit.
Ini terbukti jumlah temulawak liar di Jawa sudah banyak berkurang
dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. Maka usaha pembudidayaan
secara intensif sudah saatnya dilaksanakan.
Demikian pula kegiatan inventarisasi, penelitian – penelitian
biologi, fitokimia, farmakologi, serta teknologi budi dayanya
perlu dilanjutkan dan ditingkatkan .
Sebagai perbandingan hasil panen temulawak dan kunyit yang diolah
secara sederhana, untuk tanah yang subur mencapai 4-5 ton per
hektarare, dan yang kurang subur hanya mencapai 2-3 ton per hektarare.
Ditanah yang subur diolah cukup baik, hasilnya bisa mencapai lebih
dari 100.000 ton kering pertahun.